Address
304 North Cardinal
St. Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal
St. Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM

Buaian Lancung Pemerintah dalam Narasi Ekonomi
Namun, boleh atau tidaknya dipakai, perkara sepenting itu, karena mengenai seluruh rakyat, tak bisa diputuskan begitu saja. Lebih dahulu mesti diadakan perundingan yang masak di antara para wakil rakyat jelata.
Di tengah semangat rakyat yang membara untuk memperjuangkan kemerdekaan di tengah Pertempuran Surabaya, Tan Malaka melahirkan naskah Rencana Ekonomi Berjuang. Berbeda dengan gaya bahasa pada naskah Tan Malaka yang lain, di naskah ini ia menggunakan gaya bahasa narasi, bercerita melalui dialog, menghadirkan lima tokoh yakni Godam, Pacul, Toke, Denmas, dan Apal.
Jika menyesuaikan dengan latar waktu ditulisnya naskah ini, maka dapat dikatakan Tan Malaka mengajukan sebuah konsep “rencana ekonomi berjuang” untuk Indonesia yang saat itu tengah berperang mempertahankan kemerdekaan. Kemerdekaan secara politik dapat dipertahankan ketika ekonomi direncanakan dengan baik untuk kebutuhan perjuangan rakyat. Alih-alih merencanakan untuk membangun ekonomi yang mapan dan stabil, “rencana ekonomi berjuang” lebih tepat digunakan dalam oleh rakyat yang sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan.
Naskah dibuka dengan diskusi antara kelima tokoh mengenai kapitalisme. Kapitalisme yang hadir dengan mengeksploitasi dan menindas rakyat adalah sebab rakyat berjuang untuk terbebas darinya. Kapitalisme berdasar kepada sistem produksi yang bergantung pada alam, tenaga kerja, dan alat produksi. Tenaga kerja, atau buruh, menghasilkan hasil produksi yang bernilai jauh lebih besar daripada upah yang diterimanya, melahirkan sebuah konsep bernama eksploitasi tenaga kerja, yang mana dipahami bukan sebagai sebuah penyimpangan dalam kapitalisme, melainkan cara kerja sistem kapitalisme.
Kapitalis terus memperbesar keuntungan dirinya sendiri melalui eksploitasi terhadap buruh yang dipekerjakannya. Eksploitasi itu berupa memperpanjang jam kerja, meningkatkan kuantitas produksi, dan menekan upah para buruh serendah-rendahnya. Kapitalisme pada akhirnya menemui titik krisis, dan disebutkan sebagai konsekuensi atas sistem produksi kapitalis, bukannya kecelakaan saja.
Krisis ekonomi yang diakibatkan oleh kapitalisme, terus terjadi berulangkali dan disebabkan salah satunya oleh produksi menjadi tak terencana. Buku ini menyebutnya sebagai “produksi anarkis”. Produksi anarkis yang tak terencana ini terjadi disebabkan tak ada pihak yang mengoordinasi seberapa banyak kebutuhan rakyat akan hasil-hasil produksi. Hal ini diperparah oleh perusahaan atau pabrik dengan sesuka hati memproduksi barang demi keuntungannya sendiri.
Kedua faktor di atas akhirnya mengakibatkan berlebihnya hasil produksi pada suatu sektor, sementara sektor lain kekurangan hasil produksi, lalu pemborosan sumber daya dan persaingan ketat antarperusahaan yang destruktif. Di titik inilah kesadaran membawa konklusi bahwa masyarakat memerlukan adanya perencanaan ekonomi untuk kehidupan yang lebih baik. Terdapat tiga rencana ekonomi yang dipaparkan dalam buku ini, yakni new deal, rencana ekonomi fasis, dan rencana ekonomi sosialis.
Dari ketiga rencana ekonomi tersebut, model yang paling sesuai untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah rencana ekonomi sosialis. Rencana ekonomi ini memiliki ciri bahwa alat produksi dimiliki masyarakat atau negara, serta produksi dan distribusi disesuaikan dengan kebutuhan rakyat. Melalui rencana ekonomi ini, pengangguran dapat dihilangkan juga krisis produksi karena barang berlebih atau kekurangan dapat dicegah.
Rencana ekonomi ini harus disesuaikan dengan keadaan Indonesia yang tengah memperkukuh kemerdekaannya. Oleh karenanya dirumuskanlah “Rencana Ekonomi Berjuang” yang mengaitkan sisi ekonomi dengan situasi masyarakat Indonesia pascaproklamasi. Melalui empat kekuatan utama Indonesia, yakni iklim tropis untuk produksi sepanjang tahun, jumlah penduduk yang besar, semangat juang rakyat tinggi, dan situasi internasional yang mendukung kemerdekaan Indonesia, maka “Rencana Ekonomi Berjuang” dirancang untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat dalam keadaan mengukuhkan diri untuk kemerdekaan.
Kini, genap 80 tahun berlalu setelah kelahiran Rencana Ekonomi Berjuang yang ditulis oleh Tan Malaka ini. Indonesia tak lagi dihadapkan dengan penjajahan, atau perang kemerdekaan. “Rencana Ekonomi Berjuang” tentunya bukanlah suatu rencana yang pas untuk Indonesia saat ini. Namun, sulit pula untuk mengatakan bahwa ekonomi sebagai fondasi negara dalam situasi yang kokoh. Menurut Mohamad Ikhsan, guru besar Universitas Indonesia, jika dibandingkan jurang krisis pada tahun 1997–1998 lalu, saat ini pemerintah Indonesia malah mendekati jurang krisis tersebut. Hal tersebut terlihat dari pendanaan besar program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih, yang mana berakar pada skala prioritas APBN yang kacau.
Mengutip artikel BBC, masyarakat kini tengah terpojok dan terpaksa menggunakan “survival mode”. Menjalani hobi, menikmati waktu luang, bahkan memilih variasi makan siang bisa menjadi sebuah “dosa besar” sebab ekonomi yang terus melemah, memaksa masyarakat untuk menekan pengeluaran seminim mungkin. Harga barang-barang yang naik, khususnya BBM, menjadi fokus kekhawatiran yang menggelayuti pundak masyarakat.
Namun, alih-alih memahami kekhawatiran masyarakat, pemerintah dengan congkak dan percaya diri menyatakan bahwa ekonomi Republik Indonesia aman. Dalam pidatonya, Prabowo Subianto dengan tenang menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia kuat. Bahkan saat masyarakat mengeluhkan melemahnya nilai tukar rupiah, Prabowo dengan enteng menyuruh masyarakat tidak usah risau, karena Menteri Keuangan (saat ini diisi oleh Purbaya Yudhi Sadewa) masih bisa tersenyum. Senada dengan itu, Purbaya juga mengatakan Indonesia aman sebab setoran pajak naik 24,5% dari periode lalu, bahwa PPN dan PPnBM yang menguat adalah cerminan konsumsi dalam negeri terjaga.
Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak serius menanggapi kekhawatiran masyarakat akan kesulitan ekonomi. Jika hanya melihat dari sektor setoran pajak, maka pemerintah tutup mata dengan kondisi riil masyarakat. Pengeluaran tentu tetap dilakukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi bagaimana perihal kondisi pemasukan rakyat? Upah yang bahkan tak mencapai angka UMR, tetapi harga barang terus meroket; hanyalah situasi yang menyisakan penderitaan untuk rakyat.
Padahal, pemerintah sering kali membanggakan kekayaan alam Indonesia yang melimpah. Namun, rakyat harus berjuang sedemikian keras hanya untuk sekadar bertahan hidup. Lebih lagi, dari sekian banyak solusi untuk menyelesaikan akar permasalahan rakyat, pemerintah lebih memilih untuk mempertahankan Makan Bergizi Gratis. Program yang telah diperkirakan dan terbukti menjadi ladang korupsi, menciptakan puluhan ribu kasus keracunan, bahkan fenomena di mana harga bahan makanan pokok naik hanya saat Makan Bergizi Gratis berjalan.
Lalu, siapa sebenarnya target dari kebijakan dan program yang dicanangkan pemerintah? Sebab kala harga bahan makanan pokok dan BBM naik, rintihan rakyat diabaikan oleh para pejabat. Namun, ketika program dan kebijakan tersebut dikritik rakyat karena minim manfaat jangka panjang untuk rakyat, pemerintah justru membuka telinga lebar-lebar untuk rintihan para tikus berdasi dengan perut yang buncit itu.