Address
304 North Cardinal
St. Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal
St. Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM

Ekor Kolonialisme Masa Lalu dalam Tubuh Anom
Beberapa waktu lalu, “bahasa Jaksel” sedang tren digunakan oleh generasi muda, khususnya Gen Z, ketika berselancar di media sosial. Gaya bahasa populer ini mencampurkan kedua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, ke dalam satu kalimat, atau bahkan satu kata. Mengutip dari laman UNAIR, dalam sosiolinguistik, atau ilmu bahasa dari segi sosial, fenomena kebahasaan ini disebut alih kode (code switching).
Menurut dosen prodi Sastra Indonesia, Dr. Dra. Ni Wayan Sartini, M.Hum., fenomena ini tak berdampak buruk pada bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan bahasa Jaksel hanya digunakan dalam ranah informal, atau pergaulan saja. Lalu dalam situasi formal atau resmi, penutur akan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain itu, Ni Wayan juga mengungkapkan sisi positif dari bahasa Jaksel ini, ialah berkaitan dengan meningkatnya kemampuan bilingual.
Selain fenomena bahasa Jaksel, muncul pula perilaku penggunaan bahasa asing atau bahasa Inggris pada anak-anak muda, untuk mengungkapkan perasaan yang bersifat personal, seperti sedih, marah, kecewa, dan sebagainya. Seperti konten video yang diunggah oleh akun @anneardhisa di Instagram. Dalam video tersebut, ia berkata bahwa “aww, you’re processing your emotions in English cause no one ever taught you how to do it in your mother tongue, aww look at you, same”.
Hal ini menunjukkan bahwa munculnya sebuah kenyamanan menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia, atau bahkan bahasa tradisional, untuk menyampaikan emosi-emosi tertentu. Lies Hartono menuliskan opininya dalam hal serupa. Ia merasakan ketika mengekspresikan pemikiran, perasaan, dan refleksinya, Lies Hartono sering menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa ibunya, yakni bahasa Indonesia. Menurutnya hal itu dilakukan sebab bisa melihat perasaannya dari sudut pandang yang berbeda.
Sementara menurut Hendrik Efriyadi, penggunaan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari dapat dipandang sebagai perilaku mimikri dalam konteks poskolonial, yakni peniruan yang dilakukan kaum terjajah kepada penjajah, ataupun sebaliknya. Perilaku ini muncul sebagai representasi dari perbedaan, yaitu perbedaan sebagai proses pengingkaran. Selain itu, Hendrik Efriyadi juga menuliskan bahwa perilaku mimikri dapat menjadi penanda proses mengaburnya identitas asli kaum terjajah akibat kolonialisasi yang kuat. Sederhananya, peniruan ini dilakukan karena seseorang dari pihak terjajah merasa keren ketika menjadi sama dengan kaum penjajah, sebab ia memandang kaum penjajah sebagai kaum yang berada di atasnya.
Dalam bukunya yang berjudul Sastra dan Bayang-Bayang Kolonialisme, Hendrik Efriyadi menggunakan dua karya sastra yang ditulis oleh Ika Natassa, berjudul Critical Eleven (2015) dan The Architecture of Love (2016), untuk melihat bagaimana kolonialisme berdampak pada karya tekstual seperti karya sastra novel. Selain mimikri, yang di dalamnya juga terdapat mockery atau olok-olok, Hendrik Efriyadi juga menemukan unsur hibriditas—fenomena lahirnya budaya baru akibat persilangan budaya (kaum terjajah dengan penjajah), ambivalensi—yaitu sikap juga perilaku yang memiliki standar ganda dalam kedua novel tersebut, dan stereotipe—label superior untuk kaum kolonial pada kaum jajahan.
Salah satu bidang yang sering dimimikri atau melahirkan hibriditas adalah bahasa. Banyak dialog atau monolog tokoh dalam kedua novel dilakukan dengan bahasa Inggris, tetapi penggunaan bahasa Inggris oleh para tokoh tidak digunakan dalam situasi mendesak, yaitu berkomunikasi atau pengembangan ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pemujaan terhadap budaya Barat, di mana seseorang merasa puas ketika ia dapat tampil seperti orang Barat. Oleh karenanya, Hendrik Efriyadi menuliskan bahwa perilaku meniru atau mimikri secara loyal dilakukan para tokoh untuk menjadi manusia modern, terkesan memiliki kemampuan mengikuti zaman dan sosial kebudayaannya.
Menurut Hendrik Efriyadi, hal dapat terjadi sebab dipengaruhi oleh latar belakang dan lingkungan sang tokoh, yaitu Anya dalam novel Critical Eleven. Anya merupakan lulusan dari Georgetown University, yang berprofesi sebagai konsultan dan kerap bertugas ke luar negeri. Pilihan pendidikan dan kariernya menujukkan adanya pemujaan terhadap dunia Barat, yang mana membuat tokoh Anya berpeluang besar untuk melakukan mimikri, khususnya mengenai bahasa.
Penggunaan bahasa Inggris oleh para tokoh juga berpeluang melahirkan hibriditas, yakni teridentifikasi melalui penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris secara bersamaan. Percampuran kedua bahasa akhirnya melahirkan kebaruan, atau hibriditas bahasa tersebut. Hal ini dikarenakan bahasa yang digunakan tokoh dalam novel tidak lagi menjadi bahasa Indonesia, maupun bahasa Inggris secara menyeluruh.
Dalam novel Critical Eleven, tokoh Anya sering kali menggabungkan kedua bahasa dalam dialognya, baik dalam satu kalimat maupun satu kata. Seperti “Truth is, aku tidak tahu tujuanku apa”, atau “Senyumnya, gesture-nya, our take on their physical appearance”. Hendrik menyebutkan bahwa kalimat-kalimat tersebut merupakan kelaziman dalam teks novel pada umumnya, tetapi bahasa campuran yang digunakan juga memperlihatkan adanya hasil persilangan budaya, yang melahirkan kehibriditasan bahasa.
Pada akhirnya, kedua novel yang ditulis oleh Ika Natassa tersebut, menurut Hendrik Efriyadi, menampilkan realitas yang dialami oleh masyarakat bekas jajahan. Pada beberapa puluh tahun Indonesia dijajah, timbullah inferiority complex dalam diri bangsa Indonesia. Inferiority complex, atau mentalitas inferior didefinisikan sebagai keadaan di mana seseorang menganggap dirinya sendiri lebih rendah dari orang sekitarnya, dalam hal ini rakyat merasa rendah diri dengan penjajah. Istilah ini sempat disinggung oleh Sukarno pula, menyebut bahwa “Jangan sampai bangsa Indonesia menjadi bangsa kuli, dan menjadi kuli bangsa-bangsa”.
Oleh karenanya di akhir buku ini, sekiranya kita dapat merenungi satu hal. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan di masa lampau haruslah menjadi bahan refleksi para generasi muda. Kita bukanlah lagi rakyat jajahan Belanda, Jepang, atau bahkan Inggris. Kiblat rakyat Indonesia bukanlah negara-negara Barat, atau negara-negara Timur sekalipun. Kita adalah bangsa yang telah merdeka untuk membuat keputusan, termasuk dengan pilihan untuk menggunakan bahasa Indonesia, bahasa pemersatu bangsa yang terdiri dari beraneka suku, budaya, dan agama.
Ketika bahasa Inggris hanya digunakan agar terlihat seperti orang Barat yang dianggapnya menawan, maka pengkhianatan akan kemerdekaan bangsa dipertaruhkan. Sebab anggapan bahwa bahasa Inggris lebih menarik digunakan daripada bahasa Indonesia hanyalah opini yang lahir dari mental inferior bangsa terjajah di masa lalu. Mental yang membuat bangsa kehilangan jati dirinya sekali lagi hanya karena luka dan trauma masa lalu.