Pribumi: Batas Semu antara Manusia dan Anjing

Pribumi: Batas Semu antara Manusia dan Anjing

Verboden voor honden en inlander.
‘Priboemi dan andjing dilarang masoek.’

Mungkin, pembaca tak asing dengan kalimat di atas. Tulisan ini katanya dulu sering ditempel oleh bangsa Belanda—yang menetap di Hindia Belanda—pada restoran, kolam renang, dan tempat-tempat tertentu lainnya. Meski asal-muasal tulisan ini belum memiliki sumber sejarah yang pasti, tetapi tentunya penggunaan kata “pribumi” untuk mendiskriminasi masyrakat Indonesia sudah sering kita dengar kisahnya.

Kalimat inilah yang terpikirkan dalam diri saya kala membaca Student Hidjo yang ditulis oleh Marco Kartodikromo. Membaca buku ini, kita tak akan disuguhkan dengan konflik yang membuat perasaan campur aduk, atau alur yang membuat emosi naik dan turun; tetapi kita bisa melihat bagaimana diskriminasi yang dilakukan orang Belanda kepada masyarakat Indonesia pada zaman penjajahan, dan akhirnya melahirkan sebuah kesenjangan yang bahkan masih ada hingga saat ini.

Student Hidjo adalah karya novel, yang sebelumnya diterbitkan menjadi cerita bersambung di surat kabar Harian Sinar Hindia pada tahun 1918. Novel ini menceritakan Hidjo yang dikirim ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan engineering oleh orang tuanya. Saat meninggalkan Hindia Belanda (Indonesia), Hidjo meninggalkan keluarga dan tunangannya, yakni Biru. Novel ini memang lebih condong menceritakan kisah percintaan Hidjo dengan Biru, Wungu, juga Betje, gadis Belanda yang merupakan anak dari tuan rumah tempat Hidjo menetap.

Meski romansa menjadi topik utama dalam karya ini, tak bisa ditampik bagaimana apiknya Marco Kartodikromo menyelipkan isu diskriminasi dan kesenjangan yang mengakar kuat. Orang tua Hidjo mengirimkan anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke Belanda dengan tujuan untuk mengangkat derajat keluarga. Adegan ini mengartikan bahwa ketika pendidikan saat itu sulit dijangkau oleh masyarakat biasa, orang-orang yang memiliki privilege gelar bangsawan juga masih merasakan kesenjangan itu, sebab kesenjangan mengakar sebegitu kuatnya dalam masyarakat.

“Maksud saya mengirimkan Hidjo ke Negeri Belanda itu, tidak lain supaya orang-orang yang merendahkan kita bisa mengerti, bahwa manusia itu sama saja. Buktinya anak kita juga bisa belajar seperti regent-regent dan pangeran-pangeran.”

Diskriminasi yang dilakukan orang Belanda tak selalu lewat kekerasan yang terlihat dengan mata telanjang. Sering kali diskriminasi diwujudkan secara sistemik, menjerat rakyat hingga ia tak bisa berkutik. Lagi-lagi mengenai pendidikan. Dalam adegan novel ini, kala Controleur Walter tengah berdebat dengan Sergeant Djepris, Djepris menyebutkan bahwa “Orang Jawa bodoh”.

Hal ini ditanggapi langsung oleh Walter, dengan pernyataan bahwa orang Jawa yang bodoh dibuat oleh pemerintah Belanda, yang membatasi sekolah hanya untuk orang Belanda, juga keturunan bangsawan. Adegan tersebut menunjukkan, bahwa keterbatasan yang dihadapi oleh orang Indonesia bukan semata-mata karena masyarakat enggan berusaha atau mencoba, tetapi memang pemerintah Belanda mendiskriminasi masyarakat melalui aturan yang dibuatnya.

Diskriminasi semacam ini juga dialami Hidjo ketika ia menaiki kapal untuk pergi ke Belanda. Di tengah perjalanan, kapal berhenti di Sabang, menurunkan penumpang untuk melihat pemandangan pulau kecil di sebelah barat daya Sumatra. Ketika ia berjalan bersama dua orang gadis dan seorang nyonya, salah satu gadis bertanya dengan dalih bercanda kepada Hidjo, “Apakah Tuan bodoh?” Ketika Hidjo menanggapi dengan sopan santun dan menghargai lawan bicaranya, gadis bernama Anna itu menambahkan, “Ya, memang, meski Tuan kandidat insinyur, tetapi Tuan orang bodoh,” kata Anna untuk mengguncangkan hati Hidjo. “Orang Jawa bodoh, cis!”

Melalui adegan tersebut, kita dapat memahami bagaimana diskriminasi dan penghinaan kolonial kepada masyarakat jajahannya, yakni dengan melecehkan setiap pencapaian yang berhasil diraihnya. Hal tersebut dilontarkan Anna bahkan hanya dikarenakan stereotipe, bahwa orang Jawa adalah orang bodoh. Diskriminasi-diskriminasi dalam novel ini dihadirkan Marco Kartodikromo secara lugas, tanpa tedeng aling-aling, menunjukkan bagaimana kerasnya diskriminasi yang dirasakan bangsa Indonesia kala itu.

Namun, Marco Kartodikromo mengkritik diskriminasi ini lebih jauh. Melalui adegan kala Hidjo tiba di tanah Belanda, Marco Kartodikromo menunjukkan bahwa bangsa yang sering kali mendiskriminasi masyarakat Indonesia, sebenarnya juga sama, hanyalah manusia biasa.

Suasana semacam itu sungguh luar biasa bagi Hidjo. Bukan luar biasa karena bagusnya pakaian orang-orang yang ada si situ, tetapi luar biasa karena mulai saat itu, Hidjo bisa memerintah orang-orang Belanda. Orang yang mana kalau di tanah Hindia kebanyakan sama bersifat besar kepala.

Adegan ini bermaksud bahwa di Belanda, orang-orang di sana juga sama dengan orang-orang Indonesia. Di hotel, Hidjo bahkan diperlakukan dengan lebih baik lagi, karena anggapan orang Belanda yang melihat bahwa jika orang Jawa datang dari Hindia, maka ia memiliki banyak uang. Melalui narasi ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Marco Kartodikromo berupaya menunjukkan melalui karyanya, bahwa sebenarnya kedudukan bangsa Indonesia dan Belanda sama.

Meski alur yang dimiliki novel ini tak cukup intens dan malah condong kepada alur yang sederhana, tetapi Student Hidjo menjadi pilihan baca yang menarik bagi pembaca yang ingin melihat bagaimana kehidupan sosial pada masa penjajahan Belanda. Novel ini mencoba menarasikan ulang sejarah melalui sebuah karya sastra, menginsafkan masyarakat Indonesia akan akar penderitaan bangsa akibat imperialisme. Dan mungkin, akar imperialisme itu kembali tumbuh subur dalam era modern ini, di balik dinding teknologi dan politik dunia yang terus bergejolak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *