Address
304 North Cardinal
St. Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal
St. Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM

Melangkah Keluar dari Kubang Kemistisan
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa hal-hal mistis selalu menjadi kegemaran sebagian masyarakat Indonesia. Laut Selatan di Jogja yang dikuasai Nyi Roro Kidul, sampai meyakini adanya waktu-waktu terlarang untuk melakukan sesuatu, misalnya pernikahan. Sering kali kepercayaan akan hal-hal mistis membuat seseorang mengabaikan bukti nyata yang ada di hadapannya, dan mempercayai kemistisannya saja.
Menurut Tan Malaka, dalam bukunya yang berjudul Madilog, logika mistik ialah logika yang berasal dari kepercayaan semata-mata, yang tak bisa dibuktikan atau dijelaskan, dan merupakan ilmu paling tua di dunia ini. Seorang mistikus tak perlu memperdebatkan bukti, kebenaran, dan mencari hukumnya, sebab ia meyakini segala sesuatunya dengan berlandaskan kegaiban.
Tan Malaka—saat ia menulis Madilog, yakni kisaran tahun 1940-an—memandang bahwa Indonesia masih gelap gulita, dengan diselimuti bermacam-macam ilmu kegaiban. Keadaan ini membuat masyarakat hanya berserah diri, mengharapkan kekuatan kegaiban yang menyelesaikan permasalahan yang ada, alih-alih menyelesaikan sendiri dengan daya kekritisannya. Untuk menjadi bangsa yang maju, bangsa Indonesia perlu beralih dari logika mistika melalui filsafat, dan akhirnya sampai pada ilmu pengetahuan.
Menghadirkan Madilog—materialisme, dialektika, dan logika—Tan Malaka memberikan solusi kepada masyarakat Indonesia untuk bangkit lebih maju melalui pikiran. Segala sesuatu yang ada di dunia, memiliki dasar, penjelasan yang dapat kita lihat, bahkan sentuh. Hujan yang turun, tanaman yang tumbuh subur, hingga terjadinya bencana alam seperti gempa bukanlah semata-mata kemarahan dewa, roh leluhur yang tengah memberikan peringatan, dan sebagainya. Hujan terjadi karena siklus air, yang mengalirkan air sehingga tanaman juga dapat tumbuh subur, serta gempa dapat terjadi akibat pergeseran lempeng atau aktivitas vulkanik sebuah gunung. Semua ini diterangkan Tan Malaka melalui konsep materialisme.
Pengetahuan itulah buat saya pangkal serta ujung keajaiban. Tak ada barang yang menakjubkan saya, kalau barang itu belum sedikit pun saya ketahui.
Kedua, Tan Malaka memperkenalkan konsep dialektika. Ia menjelaskannya melalui paham dialektika-materialisme yang diajukan oleh Marx. Dalam dialektika tersebut, terdapat tesis sebagai awal, untuk dipertentangkan dengan antitesis. Kedua bentuk ini lalu dileburkan menjadi sintesis. Menurut Tan, dunia bukanlah sesuatu yang statis, tetap; tetapi merupakan kontradiksi yang terus berkembang.
Dalam memahami kedua konsep tersebut, Tan Malaka mengajukan cara berpikir berlandaskan logika. Logika diperlukan untuk memahami ilmu pengetahuan, sehingga sesuai pada hukum saintifik yang masuk akal. Selain itu, logika merupakan senjata yang ampuh untuk memerangi penyesatan, bahkan manipulasi yang kerap digunakan penguasa, atau pihak kolonial.
Baru tiga tahun sesudah lahirnya itu, Madilog sekarang memperkenalkan dirinya kepada mereka yang sudi menerimanya. Mereka yang sudah mendapat minimum latihan otak, berhati lapang, dan saksama, serta akhirnya berkemauan keras buat memahaminya.
Madilog diselesaikan oleh Tan Malaka pada tahun 1943, di Jakarta, yang mana hampir satu abad yang lalu. Lahir lebih dari 80 tahun yang lalu tepatnya, tetapi masih banyak orang yang mengakui isi buku ini sangat relevan pada zaman sekarang, 80 tahun lebih setelah buku ini lahir, bahkan Tan Malaka telah wafat.
Hal mistis tidak pernah terlepas sepenuhnya dari kehidupan, khususnya hidup masyarakat Indonesia. Pada beberapa aspek, mitos-mitos mistis tak sepenuhnya merupakan sebuah ancaman. Banyak mitos yang berbau mistis turut menjaga alam, yang kini dilestarikan keberadaannya oleh umumnya masyarakat adat untuk melindungi alamnya. Misalnya seperti mitos suatu hutan yang dilindungi ruh, sehingga orang yang merusaknya akan mendapat karma buruk.
Oleh karenanya, kita dapat menyikapinya dengan cara berpikir yang Tan Malaka wariskan pada kita, yakni Madilog. Alih-alih menolak dan berupaya menghapus seluruh mitos yang rasanya malah lebih tidak masuk akal, kita bisa berpikir kritis mengenai kelahiran, atau asal-usul mitos tersebut. Seperti yang dikatakan Tan Malaka, “… manusia dan moralnya sudah berdasarkan bukti, sudah nyata dan peralaman, serta bisa berdiri atas kakinya sendiri. Dan kakinya itu berada dalam masyarakat, manusia, serta moralnya.”
