“Masih lebih enak dijajah Belanda.”

Narasi di atas rasa-rasanya tidak asing terdengar di telinga dan terbaca di mata melalui media sosial akhir-akhir ini. Terlebih di tengah rezim Prabowo yang berhasil mencetak rekor mengerikan, yakni rupiah yang kian melemah hingga mencapai di atas Rp17.000 per dolar AS. Juga setelah terbongkarnya fakta bahwa pemerintah Belanda menganggarkan dana untuk menggaji pekerja pembangunan Jalan Anyer–Panarukan, tetapi bupati saat itu, yang mana adalah kalangan pribumi, melakukan korupsi atas dana tersebut.

Bisa saja narasi di atas lahir dari kekesalan, kepasrahan, dan rasa muak akan pemerintahan yang mencekik rakyatnya sendiri. Namun, mari kita renungkan lebih jauh melalui kacamata penduduk pribumi saat itu, masyarakat Indonesia yang merasakan secara langsung pedihnya hidup di bawah rezim kolonial. Buku Lasem: Carita yang Disembunyikan mungkin akan membantu kita memahami sudut pandang penduduk pribumi saat itu.

Buku CARITA LASEM ini disalin menjiplak buku yang telah usang dan compang-camping. Buku dari almarhum ayahku, Raden Kambara; kutulis secara sembunyi dan diam-diam pada tahun Jawa 1857 bulan Puasa, di rumah Karangturi Kemendhung.

Buku ini diterjemahkan dari buku Cerita Sejarah Lasem, yang menceritakan sejarah Kerajaan Lasem, terletak menghadap laut dengan dikelilingi gunung dan perbukitan. Pada tahun Saka/Jawa 1273, atau tahun 1351 Masehi, Lasem dipimpin oleh Dewi Indu dan suaminya, Pangeran Rajasawardana. Pemerintahan Dewi Indu adil, lurus, dan kencang, dipengaruhi wibawanya yang kuat. Melalui buku ini, kita bisa menyimak bagaimana pergantian penguasa Lasem dari Dewi Indu, turun ke anaknya, terus-menerus hingga penjajah merenggut kedamaiannya.

Nasib buruk Lasem yang memerangi pemerintah kolonial dimulai dari pemerintahan Raden Wingit, yang merupakan putra pertama dari Pangeran Tejakusuma II. Ketidaksukaan Raden Wingit terhadap Amangkurat I yang bersekutu dengan penjajah Belanda, membuatnya menetap di Lasem dan membuka Hutan Kajor. Namanya berubah menjadi Panembahan Rama. Ia akhirnya membantu Raden Trunojoyo yang bersekutu dengan Pangeran Adipati Anom, anak dari Amangkurat I, untuk menggulingkan pemerintahan Amangkurat I.

Setelah kudeta berhasil, Pangeran Adipati Anom yang akhirnya mendapat gelar Amangkurat II, malah berbalik memusuhi Raden Trunojoyo dan Panembahan Rama. Orang-orang Mataram yang memiliki dendam atas Amangkurat I, akhirnya juga mengungsi ke Lasem dan bersekutu dengan Panembahan Rama untuk melawan kompeni Belanda dan Amangkurat II.

Di belakang, para berandal yang selamat bisa melihat bagaimana kapal di depannya hancur terkena hantaman meriam, melihat perahu pecah dan kawan-kawannya yang dihabisi sedemikian rupa.

Perang memang tak pernah manusiawi. Berandal (istilah yang digunakan Belanda untuk pemberontak) Lasem yang selamat, melihat di depan matanya sesamanya yang gugur, dihabisi Belanda dengan peluru dan meriam yang tentunya tak dimiliki Berandal Lasem sebelumnya. Dendam dan rasa penderitaan tersebut makin berkembang, yang hanya memiliki tujuan akhir, yakni mengalahkan Belanda dan sekutunya.

Kembali pada kalimat di awal tadi, maka mengatakan era penjajahan adalah yang terbaik, rasanya seperti tidak memahami penderitaan dan luka bangsa sendiri di masa lalu. Sebab di balik gedung-gedung yang masih berdiri hingga kini, infrastruktur yang lebih baik dari masa kini pula; penderitaan masyarakat Indonesia masih jauh lebih nyata dan pedih.

Selain itu, kita juga bisa melihat bagaimana nasib Indonesia ketika dulu kita tak merdeka, melainkan terus di bawah penjajahan Belanda dan menjadi negara persemakmuran. Di dalam buku Lasem: Carita yang Disembunyikan, pada tahun 1747 Masehi, Belanda mengumpulkan rakyat, dan mengancam bahwa siapa pun yang bersekutu dengan berandal akan disiksa. Mereka juga melenyapkan seluruh buku dan pustaka yang mencatat mengenai Berandal Lasem, Syiwa, atau Buddha. Arca dan candi juga turut menjadi objek pemusnahan.

Semua pustaka-pustaka suci termasuk kropak atau buku Sabdabadrasanti dikumpulkan di tengah Alun-Alun Lasem dan dibakar, ditontonkan oleh semua orang. Orang-orang banyak yang begitu bersedih, sakit hati, dan menangis.

Lebih dari itu, kita pasti sudah mafhum mengenai fakta sejarah bahwa pribumi sulit mengakses pendidikan tanpa darah bangsawan. Atau perempuan yang terus dijerat dengan tali patriarki, sehingga untuk menjejakkan kaki di sekolah pun kepayahan. Ketika dihubungkan dengan fakta dalam buku ini, mungkin kita harus merenungkan kembali, bagaimana keadaan bangsa ini pada hari ini.

Mungkin nama Indonesia hanyalah menjadi angan semata. Mungkin Indonesia akan dipenuhi dengan gedung-gedung selayaknya di Belanda kini. Rakyatnya hidup tercukupi kebutuhannya. Namun, bagaimana mungkin kita membiarkan luka bangsa pedih dan bernanah, menutupnya rapat-rapat, lalu meromantisasi kehadiran penjajah sebagai entitas penyelamat untuk masa depan? Ataukah sebenarnya, narasi-narasi kekecewaan itu adalah hal yang sudah disiapkan penjajah guna mencitrakan dirinya sebagai penyelamat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *